Filed under: Uncategorized
KOMPAS, Jumat, 20 Juni 2008 | 20:36 WIB
TAPANULI UTARA, JUMAT - Mahalnya harga pupuk kimia non subsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi di beberapa daerah Sumatera Utara seperti Serdang Bedagai, Simalungun, Toba Samosir hingga Tapanuli Utara membuat petani daerah tersebut mulai beralih menggunakan pupuk organik. Pusat Koperasi Kredit Sumatera Utara yang memiliki 280.000 orang telah memprogramkan pelatihan penggunaan pupuk organik.
Menurut Pelaksana Manajer Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumatera Utara (Sumut) Robinson Bakara, hampir 60 persen anggota Puskopdit Sumut adalah petani. Mereka paling terpukul akibat menghilangnya pupuk bersubsidi. Di sisi lain, pupuk kimia non subsidi lanjut Bakara, selain harganya tak terjangkau petani biasa, juga sulit ditemukan di pasaran.
Sekarang kami mulai menganjurkan petani menggunakan pupuk organik. “Sudah ada 21 koperasi kredit atau Credit Union (CU) di Sumatera Utara, yang tersebar mulai Dari Karo, Humbang Hasundutan, Simalungun, Tapanuli Utara kami jadikan pilot project untuk penggunaan pupuk bersubsidi,” ujar Bakara di Siborongborong Tapanuli Utara, Jumat (20/6).
Bakara mengungkapkan, menghilangnya pupuk bersubsidi dan mahalnya harga pupuk non bersubsidi, membuat Puskopdit Sumut ikut menanggung akibatnya. Petani anggota kami kan mengambil kredit untuk membeli sarana produksi. Mahalnya harga pupuk non subsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi membuat mereka tak lagi bisa bertani. “Ini membuat petani tak bisa lagi mengembalikan pinjaman ke koperasi,” katanya.
Di Siborongborong Tapanuli Utara, pupuk organik mulai digunakan petani jeruk. Netty Sianipar, petani jeruk di Desa Lobu Tua Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara telah satu tahun terakhir menggunakan pupuk organik. Menurut Netty, dia mulai menggunakan pupuk organik setelah mendapat pelatihan di Puskopdit Sumut.
Netty yang merupakan anggota CU Satolop Siborongborong mengaku banyak merasakan manfaatnya setelah menggunakan pupuk bersubsidi. Manfaat yang jelas saya rasakan adalah ongkos produksi yang berkurang drastis. Jika menggunakan pupuk kimia, saya harus mengeluarkan uang sampai Rp 15 juta untuk mendapatkan 1,5 ton pupuk NPK. “Dengan pupuk organik sebanyak 1,5 ton yang memiliki kandungan sama dengan NPK, saya paling harus mengeluarkan Rp 2,4 juta untuk ongkos pembuatannya,” kata Netty.
Dia kini telah mendapatkan manfaat dari sekali panen jeruknya tahun ini. Menurut Netty, panen jeruk biasa dia lakukan dua kali dalam setahun. Dari hasil panen setelah menggunakan pupuk organik, ada peningkatan produksi sekitar 20 persen. Kalau dulu dengan pupuk kimia, hasil panen jeruk untuk lahan seluas satu hektar 50 ton. “Sekarang dengan pupuk organik, satu hektar bisa menghasilkan 60 ton jeruk,” katanya.
Netty mengungkapkan, perubahan fisik paling mencolok setelah dia menggunakan pupuk organik adalah tekstur tanaman. Jika saat menggunakan pupuk kimia, setelah pemupukan tekstur tanah berubah mengeras, dan dia harus kembali menggemburkan tanah jika mau mela kukan pemupukan lagi. Kini dengan menggunakan pupuk organik, tekstur tanah lanjut Netty bisa gembur sendiri. Ini tentu mengurangi pekerjaan, katanya.
Pelatihan pemakaian pupuk organik yang dilakukan Puskopdit Sumut kata Bakara meliputi cara pembuatan hingga mempersiapkan pemasaran produk pertanian organik. Bakara mengatakan, Puskopdit Sumut masih cukup kesulitan mengubah tradisi petani menggunakan pupuk kimia ke pupuk organik. Kesulitannya karena petani sudah sangat tergantung menggunakan pupuk kimia. Belum lagi mereka juga masih khawatir bagaimana memasarkan hasil pertanian organik mereka, katanya.
Namun Bakara yakin, bakal semakin banyak petani di Sumut menggunakan pupuk organik. Dua tahun terakhir pupuk kimia non subsidi harganya semakin mahal. Sementara pupuk bersubsidi menghilang di pasaran. “Satu-satunya cara petani bisa kembali melakukan aktivitasnya ya dengan menggunakan pupuk organik,” ujarnya.