Filed under: Uncategorized
| Jika menelusur cara buah dan sayuran organik dibudidayakan, tidak mustahil Anda akan makin memahami gaya hidup back to nature yang sebenarnya. Organik makanannya, organis perilakunya. Seperti apa?Wortel sekilo harganya hampir sepuluh ribu rupiah! Seorang ibu muda mengamati wortel dalam kemasan plastik bertuliskan “organic” di sebuah supermarket besar di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Perempuan tersebut tidak serta merta memasukkan wortel itu ke dalam kereta belanjanya, melainkan mengamat-amatinya.Mungkin pikirannya sedang berkecamuk, di pasar dia bisa mendapatkan wortel sebanyak itu, hanya dengan harga tak sampai separuhnya. Toh setelah bolak-balik melihat bungkusan wortel non-organik yang dipajang tak jauh dari situ, sang ibu memungut satu bungkus wortel organik dan memasukkannya ke dalam trolinya.
“Penasaran, sih! Pingin coba wortel organik yang diceritakan teman saya. Katanya lebih awet, nggak cepat bonyok,” jawabnya saat ditanya kenapa akhirnya memilih wortel organik itu. Hanya karena penasaran, demikian salah satu alasan kenapa orang memilih bahan pangan organik. Bisa juga, karena kini produk tersebut relatif mudah didapat di kota-kota besar seperti Jakarta ini. Selain tersedia di beberapa pasar swalayan besar, produk organik juga bisa didapat di toko-toko khusus yang menjual produk organik. Jenisnya pun makin beragam, bukan hanya sayur dan buah, tetapi juga beras, palawija, jamur, telur, pangan olahan (kecap, yogurt, selai, pasta, tahu, tempe), produk perawatan tubuh yang digunakan sehari-hari (sabun, shampoo, pasta gigi), pembersih lantai, obat nyamuk, dan banyak lagi. (more…) 0 Comments
|