Filed under: Uncategorized
KOMPAS, Selasa, 15 April 2008 | 00:54 WIB
Elok Dyah Messwati
Pemanasan global berdampak pada mencairnya salju secara lebih cepat, pada siklus iklim yang semakin kompleks. Bukan hanya itu, bahkan Badan Kesehatan Dunia menyebut, perubahan iklim juga menyebabkan semakin meluas dan tersebarnya penyakit alergis serta infeksi.
Gangguan kesehatan lainnya yang terkait secara langsung dan tidak langsung dengan perubahan iklim antara lain gangguan pernapasan seperti asma. Sedangkan pola iklim yang semakin kompleks telah mengganggu ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko penyakit yang disebabkan oleh ketiadaan air bersih, seperti kolera dan wabah penyakit diare.
Selain itu, waktu transmisi berbagai penyakit yang disebabkan vektor (demam berdarah dan malaria) juga semakin panjang dan mengubah jangkauan geografisnya sehingga berpotensi berjangkit di daerah yang masyarakatnya dulu tidak pernah menderita penyakit itu sehingga kurang kekebalannya.
Kembangkan budaya
Akibat semakin rentannya tubuh karena perubahan iklim dan semakin mahalnya biaya kesehatan, kita perlu menengok pada alternatif pengobatan dengan tanaman obat keluarga.
Pengusaha salon Martha Tilaar 40 tahun lalu mulai mengembangkan pengobatan tradisional berbasis tanaman obat keluarga ini.
Semua berawal dari rasa malu saat ujian di Akademi Kecantikan di Amerika Serikat karena pengetahuannya soal rias wajah tradisional dan kebudayaan Indonesia terbilang minim. Akhirnya ia bertekad: sepulang dari Amerika Serikat dia akan memperdalam soal kebudayaan.
Martha Tilaar pun belajar dan berguru kepada eyangnya yang ia sebut sebagai tukang jamu. Saat itu dia membuka salon pertamanya tahun 1970 dengan satu pegawai dan menggunakan produk-produk luar negeri. Namun, ia juga mengembangkan produk-produk berbahan baku alam dari Indonesia.
Ia mengembangkan kosmetik, sampo, dan obat-obatan. Untuk mendapatkan bahan-bahan tradisional ia bekerja sama dengan petani di desa-desa seperti di Tawangmangu, Jawa Tengah. Petani-petani dididik bagaimana menanam, memanen, memproses tanaman obat.
Ia juga mengembangkan percontohan tanaman obat keluarga di Sawangan, Bogor, Jawa Barat, seluas 8.000 meter persegi. Ada tanaman obat-obatan seperti empon-empon, jati belanda, temu lawak, kumis kucing, tapak lima, dan jeruk nipis.
Semua saya pelajari dari nenek saya dan saya juga belajar dari keraton. Selain itu, saya juga dibantu apoteker Ibu Widyastuti, kata Martha Tilaar.
Tidak mudah
Dia menyebut tidak mudah membuat jamu karena ada prepanen dan pascapanen. Jika tanaman dicabut dalam keadaan belum matang benar-benar, kadarnya akan berkurang, tidak optimal, dan kualitasnya berbeda-beda. Jika diekstrak akan cepat berbau. Inilah yang ia ajarkan kepada para petani.
Kini Martha Tilaar mengembangkan tanah yang ia beli di Cikarang seluas 10 hektar. Baru 3 hektar yang ditanami tanaman obat. Kami namakan kampung jamu organik. Pupuknya kompos buatan sendiri dan ada 500 spesies tanaman obat di sana, kata Martha Tilaar.
Ia juga melihat, dengan terjadinya fenomena pemanasan global sekarang ini, gerakan menanam pohon sangat mendesak harus dilakukan. Dan, kalau bisa, menanam tanaman atau pohon yang bermanfaat. Tanaman obat itu bermanfaat, apalagi kan kesehatan terpengaruh karena pemanasan global. Jadi, kalau setiap keluarga memiliki tanaman obat, biaya berobat jadi lebih murah, kata Martha Tilaar.
Hingga sekarang Martha Tilaar terus giat mencari berbagai tanaman asli Indonesia yang bermanfaat sebagai obat.
Ia berharap pengusaha lain juga tergerak mengembangkan tanaman obat sebagai bentuk corporate social responsibility (CSR). Bisa ditanam di tanah saya di Cikarang, masih ada 7 hektar yang belum ditanami, kata Martha Tilaar.
Persoalan yang muncul akibat pemanasan global dan apa yang terjadi di sekeliling kita, yang sehari-hari kita lakukan, semuanya itu akan terungkap dalam acara tiga hari Green Festival, 18-20 April mendatang di Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Tanaman obat merupakan salah satu langkah yang bisa secara praktis dan nyata kita lakukan dalam hidup keseharian kita. Persoalannya hanyalah, kapan keinginan tersebut menjadi keputusan, dan kapan kemudian diwujudkan.
Harapan penyelenggara adalah ketika masyarakat hadir dalam acara tersebut, ketika keluar mereka sudah dapat memutuskan akan mengubah perilaku sehari-hari terkait soal lingkungan, khususnya yang terkait langsung dengan emisi penyebab bertambahnya konsentrasi emisi karbon di udara sekeliling kita. Sungguh, betapa penting sebuah pengetahuan bisa diturunkan menjadi sebuah tindakan. Analoginya: tahu bahwa korupsi adalah tindakan buruk, namun tetap melakukannya…????