| Jika menelusur cara buah dan sayuran organik dibudidayakan, tidak mustahil Anda akan makin memahami gaya hidup back to nature yang sebenarnya. Organik makanannya, organis perilakunya. Seperti apa?Wortel sekilo harganya hampir sepuluh ribu rupiah! Seorang ibu muda mengamati wortel dalam kemasan plastik bertuliskan “organic” di sebuah supermarket besar di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Perempuan tersebut tidak serta merta memasukkan wortel itu ke dalam kereta belanjanya, melainkan mengamat-amatinya.Mungkin pikirannya sedang berkecamuk, di pasar dia bisa mendapatkan wortel sebanyak itu, hanya dengan harga tak sampai separuhnya. Toh setelah bolak-balik melihat bungkusan wortel non-organik yang dipajang tak jauh dari situ, sang ibu memungut satu bungkus wortel organik dan memasukkannya ke dalam trolinya.
“Penasaran, sih! Pingin coba wortel organik yang diceritakan teman saya. Katanya lebih awet, nggak cepat bonyok,” jawabnya saat ditanya kenapa akhirnya memilih wortel organik itu.
Hanya karena penasaran, demikian salah satu alasan kenapa orang memilih bahan pangan organik. Bisa juga, karena kini produk tersebut relatif mudah didapat di kota-kota besar seperti Jakarta ini. Selain tersedia di beberapa pasar swalayan besar, produk organik juga bisa didapat di toko-toko khusus yang menjual produk organik. Jenisnya pun makin beragam, bukan hanya sayur dan buah, tetapi juga beras, palawija, jamur, telur, pangan olahan (kecap, yogurt, selai, pasta, tahu, tempe), produk perawatan tubuh yang digunakan sehari-hari (sabun, shampoo, pasta gigi), pembersih lantai, obat nyamuk, dan banyak lagi. (more…)
Kiat Hemat Belanja Pangan Organik
KOMPAS. Jumat, 11 April 2008 | 11:17 WIB
Kekhawatiran akan isu penggunaan formalin, pestisida, zat pewarna, serta rekayasa genetika pada produk pangan, membuat produk organik semakin populer. Sayangnya harga produk pangan organik relatif mahal, sehingga hanya mereka yang berpenghasilan tinggi saja yang menjadi konsumennya.
Namun tak perlu khawatir, meski bujet terbatas Anda tetap bisa mengonsumsi produk makanan sehat. Ini dia tipsnya:
1. Belilah produk pangan organik di pasar tradisional sehingga Anda bisa mendapatkan harga lebih rendah daripada di supermarket.
2. Ingin membeli makanan organik dengan harga murah? Datanglah menjelang jam tutup toko. Masakan organik selalu dimasak tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga tidak bisa disimpan lama. Biasanya toko akan menjualnya setengah harga daripada menyimpannya.
3. Jangan segan bertanya pada kenalan, tetangga, atau saudara, yang sudah lebih dulu menjadi konsumen pangan organik. Mereka pasti tahu di mana membeli produk organik dengan harga murah.
4. Pelajari daftar belanja Anda. Pilah-pilah jenis bahan makanan apa yang sebaiknya merupakan produk organik, tidak harus seluruhnya. Misalnya jika Anda merasa khawatir dengan penggunaan pemutih pada beras, pilih beras organik. Memasukkan satu-dua item produk organik daripada tidak sama sekali.
5. Manfaatkan kupon potongan harga.
Saat ini produk pangan organik terus dipopulerkan. Sejumlah hipermarket bahkan secara berkala memberikan potongan harga pada beberapa produk organik yang dijualnya. Manfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan produk pangan yang sehat.
6. Tanam sendiri
Menanam sayuran tak selalu harus dilakukan di lahan yang luas. Di halaman depan rumah atau di pot pun bisa. Anda bisa mencoba dengan jenis sayuran yang mudah ditanam, misalnya cabai, tomat, seledri, atau selada. Gunakan media tanam yang sesuai dan hindari pestisida dalam perawatannya. Lalu nikmati panen pangan organik dari ‘kebun’ sendiri.
Enggano, (Seharusnya) Surga Pertanian Organik
KOMPAS. Jumat, 30 Mei 2008 | 14:05 WIB
KEMISKINAN petani Enggano ternyata membawa berkah tersendiri atas kualitas produk mereka. Karena tidak mampu membeli pupuk pabrik, tanaman cokelat, merica, melinjo, cengkeh, dan tanaman keras lain tumbuh subur tanpa kontaminasi kimia menjadi produk organik yang sebetulnya memiliki harga tinggi di pasar produk pertanian dunia.
Sepanjang mata memandang, pohon cokelat berbuah lebat di belakang hunian warga seperti terlihat di Desa Banjar Sari, ujung utara Pulau Enggano. Buah cokelat memenuhi batang pohon hingga mendekati akar.
”Pedagang di Bengkulu selalu menunggu kiriman cokelat dari Enggano sebelum dikirim ke luar daerah. Mereka menggunakan cokelat Enggano untuk bahan oplosan cokelat mereka karena dianggap berkualitas tinggi,” kata Winarto Rudi Setiawan (40), Sekretaris Desa Banjar Sari yang ditemui Jumat (16/5).
Cokelat kini menjadi salah satu primadona unggulan Pulau Enggano yang memiliki luas 680 kilometer persegi dan hanya berpenduduk sekitar 2.650 jiwa. Sepanjang jalan dari Desa Kahyapu di ujung selatan hingga Desa Banjar Sari di ujung utara sejauh 45 kilometer, terlihat warga menjemur biji cokelat.
Warga Enggano tidak pernah tahu apakah produk cokelat mereka berakhir dalam kemasan olahan cokelat terkenal seperti Nestle asal Swiss, negeri yang tidak memiliki kebun cokelat atau dinikmati di kedai kopi waralaba internasional seperti Starbucks. (more…)
Dikembangkan Lahan Padi SRI Organik: Lebih Menguntungkan daripada Metode Tanam Konvensional
Rabu, 19 Maret 2008 | 17:05 WIB
Tasikmalaya, Kompas - Departemen Pertanian tahun ini mengembangkan budidaya padi dengan metode system of rice intensification atau SRI organik di Kabupaten Tasikmalaya seluas 1.300 hektar. Budidaya padi dengan SRI organik dapat memberikan keuntungan bagi petani daripada menanam dengan metode konvensional.
Hal itu disampaikan Direktur Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian Suhartanto seusai memanen padi SRI organik di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (18/3).
Lahan sawah di aliran irigasi Ciramajaya ini berada di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Mangunreja, Tanjungjaya, dan Sukaraja. Uji coba budidaya dengan metode SRI yang menelan biaya sekitar Rp 2 miliar itu akan menambah luas areal SRI organik di Kabupaten Tasikmalaya yang sekarang mencapai 2.918 hektar.
“Selama ini belum pernah dicoba menanam padi dengan SRI organik dalam areal yang luas. Yang ada baru spot-spot saja. Sekarang di daerah aliran irigasi Ciramajaya kami akan mencoba menanam padi dengan SRI yang lebih luas,” ujar Suhartanto.
Budidaya padi dengan SRI organik dianggap dapat memberikan keuntungan bagi petani. Selain produksi yang tinggi, harga beras organik pun lebih mahal dibandingkan dengan beras dari padi yang ditanam secara konvensional.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Tasikmalaya Uu Saeful Bahri mengatakan, rata-rata produksi padi SRI organik pada panen tahun 2008 di Tasikmalaya mencapai 8,82 ton gabah kering giling (GKG) per hektar. Adapun panen padi konvensional hanya 5,88 GKG per hektar. Jika rata-rata harga beras biasa sekitar Rp 5.000 per kilogram, beras organik dijual setidaknya Rp 7.500 per kilogram.
Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim mengungkapkan, peningkatan luas tanam padi SRI di Tasikmalaya terbilang pesat. Sampai saat ini sudah ada 2.918 hektar sawah yang ditanami padi SRI. Padahal, tahun 2003 luasnya baru 44,77 hektar.
Selain program dari pemerintah pusat, ada pula program perluasan areal tanam SRI dari pemerintah provinsi dan kabupaten. Program dari pemerintah provinsi disalurkan melalui Program Pendanaan Kompetisi Indeks Pembangunan Manusia (PPK IPM). Terdapat 350 hektar lahan SRI dalam PPK IPM yang dikelola 37 kelompok tani sejak 2006 sampai sekarang.
Sementara program dari Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya di antaranya Program Desa Organik di enam desa. Setiap desa diberi tanggung jawab areal 7,5 hektar untuk ditanami padi SRI dan dikelola kelompok tani di desa tersebut.
Selain itu, Bupati Tasikmalaya pun telah menandatangani nota kesepakatan dengan camat se-Tasikmalaya guna menyediakan lahan untuk padi SRI. Setiap kecamatan diberi mandat membuka 30 persen lahan dari luas lahan potensialnya untuk ditanami padi SRI. Para camat diberi tanggung jawab menanam padi SRI pada 1 hektar lahan sehingga mereka bisa mempraktikkan metode SRI. (adh)
|